Mengenal Gugus Bagong

Dengan semangat membangun keterhubungan pada setiap mata rantai ekosistem seni pertunjukan, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) menggelar festival pertunjukan Gugus Bagong 2020 dengan tema TRANSISI, dimana penyelenggaraannya berbasis web (digelar secara daring). Gugus Bagong pertama kali dimulai tahun 2018 pada momen merayakan 40 tahun PSBK, 60 tahun Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja (PLTBK), dan 90 tahun Bagong Kussudiardja dengan format tari yang digelar 2 tahun sekali. Pemaknaan terus dilakukan. Masa peralihan pun turut dirasakan akibat pandemi yang tak pandang bulu. Pertunjukan pun tak terhindarkan dari dampaknya. Salah satunya memaksa setiap dari kita untuk berlaku kreatif dan berdaya mencari cara, mensiasati kondisi demi tetap menghidupkan nafas seni.

Agenda

RUBIK

Merupakan nama program pertunjukan di Gugus Bagong yang memuat proses-proses penciptaan karya baru dan pengembangan karya potensial, presentasi karya secara perdana (penayangan), serta bincang karya. Capaian yang dilekatkan pada program ini adalah proses bertukar pikir dan metode penciptaan karya. Oleh karenanya unsur eksperimentasi dalam memainkan ambang batas disiplin seni sangat diwadahi. Pada pelaksanaan kali ini terbagi dalam dua metode: penjaringan individu seniman untuk berkolaborasi pada ruang inkubasi penciptaan karya baru; penjaringan karya seniman potensial yang dipilih secara mandiri. Capaian yang lain, seniman mampu mengartikulasikan gagasan dan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan artistik dalam kekaryaannya, melalui sesi seniman wicara atau bincang karya. Klik disini untuk melihat!

MOZAIK: Bincang Gugus

Merupakan ruang bincang-bincang seputar arena di balik layar seni pertunjukan dalam festival ini. Mulai dari mengenal seluk beluk peran-peran apa dan seperti apa yang penting dan punya posisi menentukan kesuksesan sebuah karya pertunjukan disampaikan, sampai pada pengetahuan dan pengalaman tentang skop makro seni pertunjukan: pembangunan investasi berjejaring, singgungan dengan tinjauan pembuatan kebijakan kebudayaan, dan manajemen pelibatan masayarakat dari kacamata penyelenggara. Ruang ini tak lain adalah ruang dialog yang penuh pemerian peran-peran pelaku hulu- hilir dalam ekosistem seni pertunjukan. Klik disini untuk melihat!

PRANALA

Program ini dihadirkan pertama kali pada tahun ini untuk melengkapi pembacaan realita yang terjadi dalam tubuh pertunjukan sebagai sebuah peristiwa, melalui tatapan ruang apresiasi dan kritik. Pada presentasi visual pertamanya, Gugus Bagong memanfaatkan sebaran arsip yang lahir dari ruang tersebut untuk disusun dan dipresentasikan berdasarkan tema dan isu spesik seputar Bagong Kussudiardja, ruang hidupnya, dan momentum wacana, pengetahuan atas seni pertunjukan digulirkan.

Kliping dan Ingatan Kita yang Rapuh;

Bagong Kussudiardja, Seni Pertunjukan, dan Konteks Ruang Hidupnya

Dalam laman kliping ini, kita akan menjumpai beberapa berita terkait polemik gedung Senisono, diskusi tentang “Empu zaman modern”, ulasan karya seni pertunjukan yang ditulis untuk karya Bagong, pandangan Bagong terkait karya seni pertunjukan yang dihadirkan oleh orang lain, dan juga sumbangan kegelisahan Bagong terhadap perkembangan seni pertunjukan. Dari sana, akan hadir bagaimana wacana tentang kekaryaan Bagong Kussudiardja dan tanggapan publik atasnya, bagaimana wacana tentang perkembangan seni pertunjukan hadir dalam masa yang spesifik dan masih relevan hingga hari ini, dan bagaimana konteks ruang hidupnya selalu melekat; memengaruhi dan dipengaruhi. Wacana-wacana ini adalah wacana yang dibayangkan hadir pada ruang depan panggung; pada wilayah apresiasi dan kritik seni pertunjukan.

Kerja yang kami lakukan saat ini rasanya mustahil dilakukan dalam waktu yang singkat jika kami tidak memiliki beragam koleksi perpustkaan PSBK. Koleksi tersebut adalah warisan ketekunan praktik dokumentasi dari Bagong Kussudiardja. Praktik ini penting untuk digarisbawahi, karena dari sana dapat kita rasakan bagaimana serangkaian peristiwa di masa lalu dapat membentuk gugusan ingatan; membentuk formasi diskursifnya. Untuk dapat kita relevansikan dengan hari ini, untuk imajinasi hari-hari yang mendatang. Inilah jembatan antara lupa dan tidak tahu. Pengetahuan dari masa lalu dapat menjadi pengetahuan baru di hari ini, dengan demikian ia bisa selalu terjaga sebagai memori kolektif kita, dan kita dapat menjadi generasi yang historis. Karena ingatan kita rapuh, dan untuk itulah kerja dokumentasi selalu penting untuk dilakukan.