Bagong Kussudiardja Mengimbau Pak Walikota

MASA KINI

Kamis Kliwon, 7 April 1988

Sosok Pojok

 

BAGONG Kussudiardja mengimbau Walikota Madya Yogyakarta Djatmikanto. Tapi imbauan ini tidak berkaitan dengan persoalan tata kota atau perlunya ditinjau lagi pajak tontonan kesenian yang dirasakan berat itu. Sebagai seniman tari Bagong mengimbau Pak Walikota agar merintis penyelenggaraan festival tari diseleng garakan di setiap kecamatan Kodya Yogyakarta. "Festival itu dapat berlangsung dalam 1, 2 atau 3 bulan sekali. Dalam festival itu juga dapat diciptakan pasar seni, di mana para penonton dapat membeli benda-benda kerajinan, lukisan, souvenir, wayang kulit dan sebagainya. Saya yakin, suasana kebudayaan di Yogya bakal ramai, tidak sepi, tidak nyenyet seperti ini," kilah Bagong yang sedang menyiapkan pergelaran tari dalam pembukaan Olimpic di Seoul Korea Selatan.

Bagong yang juga pelukis itu menilai, kesenian tari dapat berkembang jika masyarakat ikut handarbeni, ikut memiliki. Karena itu, kesenian, khususnya tari, jangan sampai berjarak dengan masyarakat. Jika kesenian tari menjadi elit maka masyarakat yang mampu mengapresiasinya sedikit. "Dan salah satu upaya pemasyarakatan tari adalah lewat jalan festival di kecamatan-kecamatan," tukas kakek sepuluh cucu itu.

Seniman yang baru saja menerima Penghargaan Seni Pemerintah Daerah DIY ini juga mengatakan, cara pembinaan dan pengembangan tari selalu festival tingkat lokal itu selain sebagai terobosan budaya juga sebagai upaya pemasyarakatan tari adalah lewat jalan festival di kecamatan-kecamatan," tukas kakek sepuluh cucu itu.

Seniman yang baru saja menerima Penghargaan Seni Pemerintah Daerah DIY ini juga mengatakan, cara pembinaan dan pengembangan tari selalu festival tingkat lokal itu selain sebagai terobosan budaya juga sebagai upaya menyodorkan alternatif hiburan yang sehat kepada masyarakat. "Saya mengharap kan dari situ antara masyarakat dan para seniman tari tercipta dialog. Langkah ini sesungguhnya juga merupakan tabungan untuk menciptakan masyarakat yang lebih berbudaya. Sebab salah satu sifat kesenian tari adalah menghaluskan budi, perasaan lewat keindahan bahasa musik dan gerak," kata Bagong.

Grup-grup tari yang ditampilkan, kata Bagong, juga harus dari kecamatan setempat. Dengan demikian, setiap kecamatan dituntut untuk membentuk grup tari sekaligus mengupaya kan diri untuk latihan. Bagong optimistik, sebab hampir di setiap kecamatan tinggal seniman yang dapat menjadi ujung tombak. "Di Kecamatan Wirobrajan, misalnya, ada Amri Yahya, Hadi Sukirno, Nitiredjo dan saya sendiri. Kita-kita ini nanti kan bisa ikut cawe-cawe, bisa ikut ambil bagian," katanya.

Tentang tempat dan biaya festival itu? "Gunakan saja pendopo-pendopo kecamatan. Soal biaya. Ah itu bisa diupayakan lewat penghimpunan dana dari masyarakat. Dalam setiap kecamatan tentu ada pengusaha yang menonjol. Nah. Mereka pasti tidak keberatan membantu kesenian," kilah Bagong.

Untuk mewujudkan upaya ini, Bagong menyodorkan cara. "Pak Walikota Djatmikanto dapat mengundang para seniman untuk berembuk soal ini. Setelah kesepakatan dicapai, Pak Wali tinggal kontak para Camat. Kemudian Camat mengontak Lurah. Lurah mengontak RK. Dan RK mengontak RT. Dan RT mengontak warga masyarakat. Dan Masyarakat nanti dapat bekerjasama dengan para seniman," ujarnya.

Jika ide ini terwujud, maka akan menguntungkan Yogya sebagai kota kebudayaan dan pariwisata. "Tapi ini sekadar usul lho, boleh diterima, boleh ditolak ..." kilah Bagong. Nah bagaimana Pak Wali? Tertarik?

(rengganis/kenanga)