Bagong Menunggu Pemberontakan Tiba

YOGYA POST

Rabu Legi, 27 Juni 1990

 

BAGONG mengkili kegelisahan. Kegelisahan macam apa? Kegelisahan kreatif. Bagong punya kaul. Berbagai kegelisahan. Bagong bertanya dalam dirinya, kenapa penantiannya begitu lama. Menanti apa? Lahirnya koreografer muda yang bisa menonjol karya-karyanya. Koreografer yang punya kegelisahan kreatif sebagaimana generasi Bagong dulu. Kemudian melahirkan karya-karya yang 'menumbangkan’ karya-karya Bagong sekarang.

Karenanya Bagong mengkili supaya seniman muda punya kegelisahan kreatif, kegelisahan yang muncul karena tuntutan berkarya. Bagong punya tempat, mengkili kegelisahan kreatif. Bikin Pentas Eksperimen. Bagong punya mau, akan bikin Festival Kesenian Padepokan. Bagong punya duwit, dilepas untuk koreografer muda berkarya dan menunjukkan kebolehannya. Bagong pun bikin Gugus Bagong. Sebuah pertunjukan tari dua malam. Sabtu dan Minggu, 30 Juni - 1 Juli di Purnabudaya. Tujuh tarian ciptaan baru. Tujuh koreografer muda.

 

Semua itu konsekuensi saya sebagai orang yang pernah memperbaiki tari," katanya di Padepokannya, Kembaran Tamantirto Kasihan beberapa waktu lalu. Bagong Kusudihardjo pun membiarkan 'anak anak'-nya itu memberontak terhadap dirinya dalam berkesenian, karena Bagong sendiri mengaku dulu memberontak. Intinya, Bagong ingin lahirnya pembaharu-pembaharu.

 

Bagong mengakui bibit bibit pembaharu itu sebenarnya ada, tetapi arah belum bisa bergeser dari menunggu ke sempatan ke mencari kesempatan. Padahal, kata Bagong, kesempatan itu ada.

 

Bagong memang menatap kekosongan itu lama sekali. Apa sebab terjadi demikian? Kata Bagong banyak faktor. Tapi yang paling pokok, sikap menunggu kesempatan. Berkarya kalau dapat pesanan, berkarya kalau ditanggap. Karena saatnya Bagong merasa harus menebar jala melempar kail supaya para seniman muda terkili-kili. Bukan geli dan sekedar risi saja yang diharapkan Bagong, melainkan, itu tadi, kegelisahan kreatif. Berkarya sepanjang masa membaharu sepanjang waktu.

 

Kata Bagong, kini tiba saatnya seniman bisa berkarya sekreatif-kreatifnya. Tapi karya seniman itu memang harus linambaran batin. "Tanpa batin, nggak akan bisa baik," katanya. Artinya kesungguhan hati.

 

"Saya sebenarnya ingin memberontak, termasuk memberontak Romo Gong, karena merasa ditantang. Karya saya itu diantaranya akan berbuat sesuatu yang oleh guru-guru saya dilarang", kata Miroto yang akan tampil dengan Kidung Mengalir. Miroto sedikit menyingkap keinginannya 'memberontak' dalam pengertian membaharu dalam berkarya.

 

"Tarian kalau di Jawa ya pusatnya di Kraton, lha kalau Kraton sudah membaharu, kita harus lebih mengadakan pembaharuan. Yang klasik terus di gali, yang baru lebih dibarukan," kata Bagong yang baru saja menggarap tari untuk Pesparani III di Semarang dan tengah menyiapkan tarian kolosal di Bontang Kaltim.

 

"Kekeringan pembaharu tari, tidak boleh terjadi, harus diogrok-ogrok," kata Bagong sambil tertawa. Bagong menginginkan lahirnya pembaharu dengan nafasnya masing-masing. “Masa depan tari di tangan para pembaharu, karena itu seorang pembaharu harus peka". Barangkali, termasuk peka mencari kesempatan.

 

Kali ini Gugus Bagong menyuguhkan 'murid-murid yang lama 'nyecep kawruh bab tari' kepada Bagong, karenanya masih dalam satu 'galaxy' Bagong. Satu tata surya Bagong. Lebih dari itu mereka dilepas buat mencari kebaruan dan menemukannya.

 

Tujuh tarian yang bakal manggung dua kali dalam dua malam, bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta itu, Kidung Mengalir (Miroto); Bermain (Flory Fonno); Polah (Aryawan); Kebun Manusia (G Djaduk Ferianto); Lepas Utas (Ida Wibowo); Kekayon (Sutopo Tedjobaskoro); dan Mencari (Heru Handonowari). Penampilan mereka itu menurut kabar akan disaksikan pula suatu tim dari Amerika yang memantau kebolehan koreografer muda ini dalam hubungannya dengan KIAS (pameran kebudayaan Indoensia di AS).

(adm)