Gugus Bagong: dari yang Asal Garap Hingga Karya Tari yang Penuh Gegap

MINGGU PAGI No 15 Tahun ke 44 Minggu Ketiga Juli 1990

CAKRAWALA

Catatan: Niesby Sabakingkin

 

NAKAL- Letupan-letupan keinginan, pemberontakan-pemberontakan konvensi, dan keusregan-keuregan jiwa, boleh dibilang merupakan modal dasar tumbuhnya kreativitas seni. Juga dalam blantika seni tari. Kehendak-kehendak nakal dibutuhkan untuk menjawab 'ketidak-tahuan' atas masa depan tari nasional. Setidaknya yang digarap koreografer pabrik seni, Yogyakarta.

 

Bisa dipastikan, untuk meredam sikap acuh tak acuh terhadap penancapan tonggak nasib seni tari, dibutuhkan bukti operasional seniman dalam karya yang layak tayang. Dan sosok-sosok 'sakti' Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo, mencoba menghadirkan karya untuk menanggapi tantangan itu dalam suguhan Pergelaran Tari Gugus Bagong, 30 Juni dan 1 Juli 1990 lalu di Purna Budaya, atas kerjasamanya dengan Taman Budaya Yogyakarta.

 

Tujuh koreografer yang di antara nya, selama ini dikenal masyarakat memiliki balungan kokoh, dipilih untuk kirab di depan audisi berbagai lapisan, baik penari, koreografer, dosen tari, peneliti, juga sekadar penggemar seni yang datang dari mancanegara, walau malam Minggu dan Minggu malam itu, kuantitasnya tak sampai memenuhi kursi yang disediakan.

 

Dari tujuh penggarap tari yang hadir, ternyata tidak semuanya nakal. Pendek kata, tidak semua karya enak dinikmati, atau dengan kata lain, ketujuh koreografer yang tampil tidak semuanya boleh dibilang berhasil mengekspresikan gejolak jiwanya, walau mereka justru memiliki latar pendidikan formal tari.

 

Bisa jadi, justru karena keterlibatan mereka terlalu menghunjam pada khasanah teori seni tari atau pendalaman terhadap tari klasik, ”Koreografernya terjebak pada khasanah tari Mataraman", tutur Drs Maryono, dosen dan pengamat tari mengomentari salah satu album. "Nilai 'Gugus Bagong’-nya tipis karena terlalu cenderung menampilkan tari klasik, penampilannya kurang nakal”, tambah nya.

 

TERJEBAK—Sepintas pandang, lima dari tujuh koreografer yang tampil, tampak seperti terjebak dalam angan-angan pribadi. Nilai gerak yang dihadirkan, berkualitas memang. Cuma, merangkai unsur-unsur gerak dalam sebuah suguhan yang layak dinikmati, rasanya kurang tercapai. Kelima koreografer tersebut tampak memaksa audisi mencerna karyanya, sementara dua lainnya mengajak audisi untuk terlibat dalam suguhan.

 

Penampilan pertama misalnya, Drs Marcianus Yustianus Frorybertus Fonno (30) yang menampilkan Bermain, kurang berhasil sebagai koreografer. Barangkali sesuai ikrarnya, "Saya ingin jadi penari”, kata lelaki asal Manggarai, Flores yang lebih akrab dipanggil Loly itu, ia gagal tampil sebagai penata tari. Memang, insan tari lebih suka melihat Loly tampil sebagai penari. Sebab, layak diakui, penari dan penyanyi itu kelihatan lebih njawani, lebih indah dari penari Jawa ketika menarikan Klana Topeng atau bahkan tari puteri klasik Mataraman.

 

Padahal, garapan tari yang mencerminkan dolanan anak-anak Indonesia Timur itu bisa lebih mendekati audisi bila digarap lebih komunikatif. Misalnya, walau tembang atau vokal yang menyertai tarinya, bukan berbahasa Jawa, namun, umpamanya, Seudati, Seulauweut, Pho, atau Saman Aceh, bisa dinikmati audisi segala suku. Barangkali, unsur geraknya yang kurang kaya, Bermain pun lenyap tanpa kesan.

 

Begitu juga dengan Sutopo Tedjabaskoro (?), kiprah Kekayonnya terjebak kegaiban 'gunungan yang malam itu dipakai sebagai hand property sekaligus setting. Awal penampilan nya, memang terasa ada getaran yang merangsang untuk memperhatikan lebih lanjut. Namun, dalam perkembangan pertikaian, Topo lebih banyak menampilkan gerak-gerak simbolik yang kurang dinamik seperti yang menjadi ciri PSBK, setidaknya yang diduga masyarakat.

 

Andaikata, garapan tersebut didukung dua atau tiga penari saja, dengan gunungan yang tidak terlalu besar, barangkali Topo lebih leluasa menggarap panggung dengan gerak-gerak dinamik, dan rasanya Kekayon bisa lebih nyaman dinikmati dibanding dengan banyak pendukung yang mengakibatkan panggung penuh gunungan.

 

Sewaktu Heru Handonowari (30) tampil dengan Mencari, kekecewaan terasa terobati sedikit. Album yang mencerminkan pencarian Dzat yang bertahta dalam nurani setiap manusia, terutama pemeluk Nasrani. Alunan musik yang diedit dari Lugos 2, Rendez vous, Sactus, dan Agnus Dei dengan vokal para raib OSB di Solesmes dan Clervaux itu mampu menuntun audisi menikmati kenyamanan gerak para penari yang tampil dalam garapan semi ballet dan gerak indah.

 

Heru memiliki nilai plus dalam penggarapan panggung yang selalu terisi walau hanya satu penari yang menguasai segala sudut. Garapan teateral sampai mendekati resolution masih mengundang perhatian. Namun, kepekaan mata audisi agak terganggu ketika latar panggung yang hitam, diisi dengan penari yang berpakaian hitam pula. Apakah mengacaukan plot bila warna hitam itu diganti dengan warna yang lebih kontras, hanya Heru yang layak menjawab.

 

Ada dua hal yang sangat mengganjal, yakni terlalu banyak adegan yang membelakangi audisi dan penyelesain pertikaian yang kurang indah. Kalaupun penari harus membelakangi penonton karena mereka terpaku pada salib di central down stage, mengapa penampilan salibnya tampak asal-asalan saja. Dan penyelesaian dengan lenyapnya seorang penari ke arah penonton, sementara di panggung terlihat banyak penari yang ditembak cahaya, kesannya sangat lemah sebagai sebuah sajian seni.

 

Garapan Polah karya Drs Aryawan Dwi Sasongko (27), sebaiknya jangan dimasukkan dalam rangkaian Gugus Bagong. Ini hanya usul. Sebab, selain berkesan menampilkan tari-tarian Jawa, sama sekali tidak terasa adanya greget dan kenakalan yang dituntutkan sebagai koreografer kreatif. Untung, sarjana tari ISI jurusan komposisi itu menyiasati karyanya dengan penampilan komposisi 2KrD-4TBI 2KnD, atau susunan KrD.Krb 2TD.2TBI-KnD.KnBI, dan lainnya. Sayang, gerak penari tidak bisa serempak, walau irama kenong, rebab, kempul, dan gong cukup menuntunnya.

 

Apalagi Kidung Mengalir karya Drs Miroto (32), sama sekali tak ada kesan mengalirnya. Memang, koreografernya sudah memasang perisai dengan mengatakan, "Garapan ini tidak ada pesan apa-apa”. Namun, tontonan tetap tontonan, yang dituntut untuk memuaskan penonton. Lakunya, menggarap gerak dan panggung secara konvensional, walau boleh memberontak.

 

Tapi, memberontak dalam panggarapan panggung, rasanya justru menjauhi unsur-unsur keindahan. Misalnya, tiga penari konsentrasi di sisi kiri panggung, sementara sisi kanan kosong, tetapi tertembak sinar. Lantas, kalau tanpa pesan apa-apa, layakkan koreografi melepaskan plot? Penonton disuguhi gerak yang tak ada kekuatan moralnya sama sekali? Inikah salah satu Gugus Bagong? Dalam hati saya bergumam, (Nuwun sewu Romo Gong, ingkang menika awon sanget).

 

BERHASIL-- Sebelumnya dada terasa terhentak-hentak menyaksikan kiprah sebelas penari dalam Lepas Utas garapan Ida Wibowo (35). Koreografi yang layak mewakili Gugus Bagong. Bukan karena Ida adalah puteri pemilik padepokan, tetapi garapannya memang mencerminkan sajian seperti yang diminati masyarakat penikmat tari berciri PLT atau PSBK.

 

Sejak muncul, tak ada gerak yang kocar-kacir. Seluruh penari tergarap otot dan staminanya dalam memguasai panggung. Seluruh aorta digarap dengan iringan musik yang menghentak-hentak. Komposisi yang tertata rapi. Walau kostumnya sederhana, tetapi disain gerak yang ditampilkan lengkap, membuat penonton hanya menikmati greget dan isi jiwa Lepas Utas.

 

Kalau Ida Wibowo yang sering tampil di luar negeri itu bermaksud menyajikan cermin kehidupan manusia yang semula terbelenggu, lalu berupaya melepasnya, dan berhasil, audisi malam itu pun menganggap, garapan tari ini paling berhasil dibanding lainnya. Terbukti dengan tepuk tangan berkepanjangan diberikan dengan tulus dan spontan, dan tak terlahir pada garapan tari lainnya.

 

Begitu juga dengan Kebun Manusia garapan Gregorius Djadug Ferianto (26) yang mendapat sambutan hangat audisi. Ini juga bukan karena lelaki penganggur ini putera sosok yang diguguskan malam itu, tetapi lantaran keunikan garapannya yang melibatkan berbagai unsur seni yang selama ini digauli dan dikuasai.

 

Walau bukan sepenuhnya garapan tari, lantaran masuk juga unsur pantomim, lawak, dan teater, sajian penutup malam Gugus Bagong tersebut perlu diacungi jempol sebagai garapan panggung yang nyaman ditonton. Ya, kalaupun tidak disebut koreografi, sebut saja tontonan. Pertunjukan yang berhasil. Toh begitu. Djadug perlu membenahi hadirnya unsur luar, seperti turis penikmat Kebun Manusia yang ternyata berupa materi museum, lebih terprogram, terencana, walau barangkali maksudnya ingin memasukkan unsur improvisasi.

 

Dari tujuh koreografer yang diunjukkan, walau memiliki kualitas berbeda-beda, namun penampilan seperti itu layak diprogram sebagai acara rutin, untuk membuktikan bahwa, kehidupan tari di Yogya tidak mandeg, dan dengan adanya garapan Ida dan Djadug, orang tidak bisa lagi menyatakan embuh ora weruh ketika ditanya, bagaimana masa depan khasanah dunia tari di Yogya, atau bahkan Indonesia.