“Kalau Hanya Lari2 Di Pantai .....”

BERITA NASIONAL

RABU PON, 5 JUNI 1985

 

Lewat tulisan ini, celoteh yang nakal setidak2nya akan mempertanyakan, mau dibawa kemana masyarakat penonton itu, setelah satu setengah jam terpaku menyaksikan abstraksi tari karya Bagong Kussudiardja di Parangtritis Minggu 2 Juni 1985 yl. Atau suatu pertanyaan, konsep pemikiran apa yang mendasari pementasan itu.

 

Bukan suatu gebrakan pembaharuan kesenian. "Bukan..... bukan sama sekali” tandas Bagong, seusai "Kita perlu berpaling ke alam dan bersujud kepadaNya, kiprah dihamparan pantai pasir plus minus 200 m2. Tapi suatu gejolak, keresahan timbul dalam diri sang koreografer itu, setelah melihat kenyataan adanya ketergantungan sejumlah karya seni tari, dan seni yang lain, terhadap sarana2 elite, misalnya; di gedung2 kesenian. Reog: Jatilan, dsb. jenis tari tradisional pun alergi berkiprah di bawah rumpun bambu. Semua akibat ini, karena pemanjaan. Sehingga komunitas dengan penonton pun semakin jauh.

 

Bagi penonton awam, seperti kebanyakan masyarakat yang datang di Parangtritis, umumnya menyatakan 'bingung' dan memaksa memeras pikiran untuk mencoba mengerti, gesture2 tari dari mulai gerak2 yang tak beraturan, berlanjut dengan kompo sisi garis horizontal, vertikal, lengkung dan bundar bulat. Maka tak heran, kalau penonton pun berceloteh; "Kalau hanya sekedar berlari2 di pantai, membentuk komposisi bulat seperti dremolen tak sulit'.

 

Konsep pemikiran yang demikian, barangkali yang menuntun Bagong harus mengerahkan 100 penari, menari di alam luas terbuka. Maksudnya tak lebih untuk menjalin nuansa komunikasi dengan masyarakat lewat karya tarinya. Berhasilkah dia? Itu yang terasa masih mengganjal, dan dipertanyakan. Walaupun Pangeran Poeger, salah seorang tokoh tari klasik, menyatakan setelah menikmati abstraksi tari, bahwa suatu penyegaran, dan perlu tindak lanjut. Ungkapan yang senada juga dikomentarkan Ki Suratman.

 

Tentunya celoteh itu, bukan mengada2, tapi memang keluar dari ketidak tahuan, dan ketidakmampuannya menyerap abstraksi tari yang tersaji, yang memanfaatkan kain2 panjang sebagai property, yang apabila dimainkan dengan ekspresi akan banyak memberikan arti.

 

* (Bersambung ke hal 8 kol 7)

 

Kalau Hanya Lari2

 

(Sambungan dari hal 1)

 

Terasa datar Memang, diakui atau tidak, namun kiprah tari yang memfokuskan pada nilai religiùs tentang Kenaikan Isa Al Masih itu, masih terasa datar. Berkomunikasi dengan alam, terasa belum menghujam, sedang nilai religiusnya sendiri, juga terasa belum menyentuh. Barangkali ini resiko Bagong, untuk menggabungkan penari senior, dan yang yunior. Sehingga ekspresi yang tampil pun tak terangkum seluruhnya, dan justru menimbulkan konflik2 adegan peradegan, yang sekilas tanpa ada kesinambungan.

 

Kesalahan besar atas suatu pementasan di arena luas terbuka itu disadarinya. Masalahnya akan lain, bila penonton dapat melayangkan pandangannya dalam satu fokus pandang, dan menikmatinya di atas gundukan pasir, misalnya. Di sini akan terasa, ada kesinambungan benang pertunjukan yang dipaparkan lewat gerak tangan, loncatan kaki, yang bergaya Martha Graham. Dan dengan musik yg terus menerus gelombang samudera.

 

"Apabila musik itu sesekali diam, dan gerak tari didukung suara ombak, akan terasa lebih menyatu dengan alam" komentar Duncan Goodrick, musikolog asal negara Paman Sam.

 

Lepas dari kekurangan2, namun koreografer yg masih menimba ilmu LPKJ Jakarta, Tetet Sri WD, mengakui penyegaran yang dilakukan Ba gong dengan 100 penari dari padepokan, dan pusat latihan tari (PLT) perlu didukung. Katanya di Jakarta, ada 3.500 group kesenian, namun belum ada yang berusaha mengakrabi alam. Yang menurut Bagong sendiri, alam, seperti, air, sinar matahari, dan tanah, banyak memberikan arti tersendiri dalam dunia tari. "Suatu yang sebelumnya tak ditemukan, akan diperoleh" katanya Bagong.

 

Yang jelas Bagong, mengaku dikecewakan oleh angin, dan sinar matahari. Angin tak lagi mendukung, manakala kain2 panjang itu digelar dan sinar matahari tak lagi memberi siloet dalam demensi tata surya, melalui pantulan air, lantaran jelaga awan yg menyeliputi langit. Kekecewaan ini, tak saja diserahkan Bagong, seperti Sunardi, Sutopo yang memerankan Kristus, dibuatnya pula harus menerima keadaan alam.

 

"Lebih baik ketika latihan” ucapnya lemas.

 

Tapi setidak2nya, Bagong yang belum puas dengan karya tariannya itu, berucap; "semoga pementasan Ratu Kidul di tempat yang sama, yang direncanakan Juli mendatang, akan lebih baik-(Bowo Widodo)