MENYONGSONG PERGELARAN TARI 'GUGUS BAGONG' Setelah Harapan Tertanam, Lalu Apa?

 KEDAULATAN RAKYAT MINGGU PON 24 JUNI 1990 (1 BESAR 1922)

 

KETIKA suatu kali terdengar rerasan, bahwa kita miskin kritikus tari, bahwa koran-koran amat pelit memberikan kaplingnya untuk resensi tari, segera terbayang betapa 'menderita'nya cabang kesenian berbahasa gerak itu. Ia terpencil, terlewatkan. Hadir ya syukur, tidak ya bukan perkara istimewa. Namun, ketika kita mencoba bijak merenungkan, mawas diri, ketemulah biang persoalan. Ternyata ada garis sejarah yang patah, Intensitas surut ke belakang, dinamika yang hilang. Pendeknya, gairah penciptaan tari - khususnya di Yogya - berhenti sebagai 'peristiwa seremonial'. Bukan hadir sebagai peristiwa budaya yang mencerminkan adanya setumpuk kegelisahan kreatif para pelakunya. Yang terlihat adalah pergelaran demi pergelaran dalam kaitan upacara ini-itu, pesanan-pesanan pihak ketiga, hiburan-hiburan artifisial, atau 'ekspresi’ demi tugas kesarjanaan.

 

Kalau kritikus (tari) diyakini sebagai sebuah pihak yang mencatat suatu kecenderungan, seksi sejarah dalam konteks kreativitas, tentulah segera dimaklumi jika dunia tari kesepian. Apa yang harus ditulisnya, jika dalam konteks kebudayaan itu tidak ditemukan sesuatu yang berarti. Atau, bagaimana seorang kritikus tari akan lahir, jika atmosfir jagad itu tidak menampakkan dinamika penciptaan. Yang ada hanyalah, kemacetan, kemandegan, impotensi. Memang, faktual tak sedikit kiprah koreographer (muda) di kampus perguruan-tinggi seni. Garapan-garapan segar di sejumlah Festival, juga tak kurang ramainya. Tapi, haruskah itu diduduksejajarkan dengan usaha-usaha tak kenal henti para seniman (tari) yang senantiasa menumpahkan bakti? Apakah dengan satu kali pementasan, dan setelah itu sang Kereographer tak jelas lagi juntrungnya, - mampu memotivisir lahirnya kritikus atau minimalnya 'tukang resensi' tari? Jadi, kesimpulannya, rerasan miskin kritikus tari, bersumber pula dari padamnya api-kreativitas itu. Etos kekaryaan yang tidak lagi dijumpai setelah Bagong Kusudiardja dan Wisnu Wardhana di tahun 50-an menggebuk kemapanan, setelah Ben Soeharto memberikan sentuhan-baru pada karya-karya klasik. Rangsangan etos itulah yang agaknya, musti ditumbuhkan kembali.

 

Jika kita melirik cabang seni lain, taruhlah ia bernama seni teater, sastra, musik, maupun senirupa, sepantasnya iklim yang ada dicemburui. Betapa di sana ada dinamika, meski kendalanya (barangkali) sama; soal dana yang cupet, atau fasilitas yang pas-pasan. Betapa di sana, dari saat ke saat lahir para pembaharu, - sementara di sini (jagad tar, pen) berkutat ke itu-itu melulu. Betapa di sana suatu pergelaran teater atau pameran lukisan diasumsikan sebagai kebutuhan mendasar senimannya, hukumnya 'wajib' sebagai konsekuensi kesenimannya, - sementara di wilayah tari selaksa kebutuhan sekunder atau bahkan tertier. Jadi, sebelum mencari-cari kambing hitam, dunia tari sendirilah yang musti berbenah. Ini pe-er paling mendasar yang harus segera dikerjakan, sebelum nantinya menggugat soal gedung kesenian yang di kota-budaya ini tak pernah representatif; soal sponsor yang diciutkan partisipasinya oleh salah satu lembaga kebudayaan; soal pajak tontonan dan setumpuk lagi masalah yang siap menyerimpung.

 

Lalu, embun pun menetes di gurun. Begitu ungkapan puitis nya, jika pekan depan ada tujuh koreographer menyodorkan karyanya di Purnabudaya. Selama dua hari, 30 Juni dan I Juli, para koreographer itu - Ida Wibowo, M Miroto, Sutopo Tb, G Jaduk Ferianto, Flory Fonno, Heru Handonowari, dan Aryawan - tampil dalam satu paket pergelaran tari 'GUGUS BAGONG". Sudah bisa diduga, mereka adalah individu-individu yang tumbuh dan berkembang dalam atmosfir seniman tari kenamaan kita, Bagong Kussudiardja. Adakah ini suatu pertanda bangkitnya dinamika seni tari di Yogya? Wallahulambisawab! Proses waktu yang bakal menjawab. Yang pasti, kiprah yang diselenggarakan hasil kerjasama Padepokan Seni Bagong K dan Taman Budaya Yogyakarta ini, hadir justru pada saat musim gersang itu melanda. Ini suatu harapan yang ditanam. Dengan harapan bisa tumbuh dan mekar, atau setidaknya membikin padang gersang menjadi (agak) subur. Tantangan kreativitas, aba-aba berangkat perang di gelanggang penciptaan.

 

Sebagai suatu gugus, tentunya para koreographer itu dibayangi suatu jaringan global, gaya Bagong. Tapi toh sebagai unsur dari gugus itu, tetap tersisa ciri individu yang berpijak pada kebebasan kreatif. Menjadi menarik seumpama kelak terbukti betapa bayang-bayang Bagong semakin memudar - kalau pun ada ya wajar - karena ini pertanda semakin melebarnya kemungkinan pengembangan. Sumbangsih yang tidak hanya berjalan di tempat. Gerombolan tujuh koreographer yang pernah mencicipi pengolahan tari di PLT Bagong K ini, barangkat dengan semangat pemberontakan. Memberontak kesepian, atau bahkan memberontak gaya Bagong yang faktual memang telah mengakar di masyarakat itu.

 

* Bersambung hal 9

 

Setelah.….

 

Sambungan hal 8

 

Seperti cakramanggilingan yang harus selalu menggelinding, sekarang tiba saatnya nama-nama baru muncul (dimunculkan?) ke permukaan. Jika pada masanya seniman Bagong mengusik kemapanan, mendobrak kemandegan tradisi dunia tari Jawa, - sekarang gantian dunia tari Bagong digebah oleh anak cucunya sendiri. Dan Bagong sendirilah yang mengongkosi bah-ginebah itu, Karena justru dari 'suasana perang' itulah tersisa suatu gejolak. Iklim yang dinamis, yang bukan tidak mungkin malah menjadi rangsangan bagi penciptaan tari dikemudian hari. Baik untuk Bagong sendiri, atau nama-nama lain yang kini nyenyak di peraduannya.

 

Adapun ketujuh karya yang a kan ditampilkan; LEPAS UTAS (Ida Wibowo), KEKAYON (Su topo Tb), KIDUNG MENG ALIR M Miroto), KEBUN MANUSIA (G Jaduk Ferianto), MENCARI (Heru Handonowa ri), BERMAIN (Flory Fonno), dan POLAH (Aryawan).

(W. Poer).-h.