Paket Pergelaran Tari Gugus Bagong Proyek Rugi Rp 2 juta dari Kantong

MINGGU PAGI No 13 Tahun ke 44 Minggu Pertama Juli 1990

 

BAGONG KUSSUDIARDJO gelisah. Seniman tari kawakan itu tak habis pikir tentang senitari, sekarang. Katanya, koreografer muda tengah mengalami stagnasi. Mandeg dalam hal olahgerak. Olah kreativitas. Perihal ini tak hanya terjadi di Yogya, lanjutnya. Melainkan, secara umum terjadi juga di kota-kota lain di Indonesia. Iklim semacam ini, sesungguhnya sudah lama terasa, amatannya. Tapi belakangan ini kemandegan itu makin tampak.

 

Minimnya pergelaran tari boleh jadi salahsatu bukti kemandegan itu. Seolah koreografer muda kehabisan nafas untuk melompatkan aksinya di panggung. Ini memprihatinkan, serunya. Dan perlu segera ditangani. Perlu di dorong. Dirangsang agar mereka bisa terpacu untuk memuncratkan kreativitasnya. Jika hawa adem-ayem tanpa proses kreativitas semacam itu terus menerus dipelihara, bagaimana jadinya tumbuh-kembang senitari di Indonesia. Di Yogya khususnya, yang menyandang sampur kota Budaya.

 

Memang, "Beda dengan jaman saya dulu” kenangnya, memapar etos kekaryaan di bidang tari seputar 1950 an. "Berkarya itu harus!" teriaknya. Dan kreativitas merupakan bagian dari kepribadian. Sementara panggung adalah ajang tanding yang bukan main-main. Ajang saing yang nggegirisi antar seniman. Karena taruhannya nama! Siapa pun yang tampil mengedepankan karya yang berkualitas, namanya mumbul. Hasil kerjanya akan diacungi jempol. Dan itu bukan basa-basi. Sebut saja seniman tari sepantaran Bagong Kussudiardjo. Mereka adalah yang berani mengedepankan kreativitas itu.

 

LEBIH rinci membincangkan tentang kemandegan di bidang tari sekarang, Bagong Kussudiardjo mengatakan, adanya stagnasi dikarenakan banyak hal. Kompleks sekali, tambahnya. Bisa karena soal dana produksi. Sulitnya mencari gedung pergelaran yang representatif. Bisa pula ini merupakan dampak kehidupan yang serba pragmatis. Tapi kalau pun ini dianggap sebagai kendala, seharusnya tidak lantas mengecilkan nyali koreografer muda untuk melangkah ke depan. Berkarya. Oleh karena 'kendala ini belumlah seberapa jika dibanding tahun-tahun silam. Dan harus diakui keadaan sekarang lebih baik. Lebih memungkinkan seniman berolah kreasi. Apalagi kegairahan masyarakat nonton pergelaran tari cukup tinggi di Yogya, dibanding Jakarta, umpamanya.

 

Tapi disayangkan jika adanya pentas tari karena keterpaksaan. Lantaran tuntutan kerja semata. Masyarakat membutuhkan karya yang berbicara. Punya gigitan. Dan bukan sekadar asal gebyar. Wah!

 

Karena itu, guna memancing kreativitas koreografer muda di Yogya terutama, Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo hendak menggelar sejumlah karya tari. Menurut Butet Kertaredjasa, paket Pergelaran Tari Gugus Bagong, gelar tari ini rencana dipertunjukkan di Purna Budaya, 30 Juni dan 1 Juli, pukul 20.00.

Sebanyak 7 koreografer dan 43 penari yang hendak unjuk gigi itu masing-masing Ida Wibowo (Lepas Utas), Jaduk Feriyanto (Kebon Manusia), Flory Fonno (Bermain), Miroto (Kidung Mengulur), Ariyawan (Polah), Sutopo TB (Kekayon), dan Heru Andowari (Mencari).

 

"Sebenarnya ini merupakan proyek rugi" kata Butet, Pimpinan Produksi pergelaran tersebut. Dua juta rupiah pun lepas dari kantong Pak Bagong sendiri, cerita Butet. "Penarinya juga tidak ada yang dibayar." Apalagi tiket hanya dijual 1500 rupiah. Bisakah itu menutup moda!?

 

Kata Butet, karya tari tersebut yang hendak digelar itu, merupakan karya andalan penciptanya. Seperti karya Ida Wibowo dan Miroto, itu mendapat rekomendasi dari panitia KIAS, untuk berpartisipasi di KIAS mendatang.

 

-ww