PENDAPAT : Ludruk Marhaen di Jogjakarta

"LUDRUK MARHAEN” DI JOGJA.. Salah satu adegan dari Kuntji Rahasia. (Gambar : ”K. R.”).

(Oleh: B. KUSSUDIARDJA).

 

 

Hasil dari keuletan para anggota Marhaen dengan kejakinan dan tekat untuk menggali kesenian daerah jang karakteristik itu, sudah tampak dihadapan kita kemadjuan2nja (kalau kita banding dengan rombongan2 Ludruk jang pernah dan berkali2 saja lihat di Djawa Timur.

 

Kelantjaran dan kebersihan dalam menjusun tjerita jang dilakukan dengan tidak meninggalkan garis2 pertundjukan Ludruk, kehalusan dan tata susila dalam tjeritera sudah mendapat perhatian dari sutradaranja, pembagian peranan baik wanita jang dilakukan oleh laki2 maupun peranan laki2nja sutradara sudah bisa menghasilkan sesuatu jang diingini oleh publik jg mengikuti dan merasakan djalan tjeriteranja. Peranan2 wanita jang dilakukan oleh para pemain laki2 adalah tradisi pertundjukan Ludruk, djuga tembang jang berisi sindiran jang diikuti irama gamelan jg gembira dan penuh dinamik dalam kendangnja menambah dan bisa menundjukkan kepribadian hasil seni dari Djawa Timur. Akan tetapi alangkah baiknja dan perlu sekali dipertahankan tradisi dalam pertundjukan Ludruk jaitu tarian Ngremo jang biasa dipertundjukkan sebelum pertundjukan jang bertjeritera dimulai, karena tarian tersebut sebetulnja mempunjai gaja jang lain dari pada jang lain. Artinja tarian tsb. bisa mewakili Djawa Timur dalam dunia seni tari, tentu sadja perubahan2 dalam tehnik tarinja perlu mendapat perhatian termasuk komposisi tarinja dan pakaian jang biasa dipergunakan, dan tentang tari Ngremo tersebut pernah saja tulis dalam surat kabar ini jang pokoknja saja minta perhatian para seniman2 angkatan muda dari Djawa Timur untuk memperhatikan dan mengolah tarian Ngremo agar mendapat kedudukan jang selajaknja dalam dunia seni tari. Dan saja tidak bisa menerima begitu sadja dimasukkannja tarian Djawa dlm tengah2 tjeritera Ludruk, djuga tembang dan iringan gending ala Djawa Tengah. Karena dimasukkannja tarian jang agak serius biarpun ada humornja dan perpindahan suasana gending, sangat djanggal kita rasakan malahan membubrah suasana pertundjukan Ludruk jang spesifik dan berpribadi, bukankah bisa diganti dengan tarian jang menggunakan gending dan tarian jang masih dekat dengan suasana keaslian. Bukan berarti saja tidak rela dalam Ludruk menggunakan tarian dan gending2 Djawa Tengah, tapi saja akan mempertahankan kepribadian dan suasana Ludruk jang sebenarnja dengan gending2nja jang memadatkan hasil seni rakjat Djawa Timur. Tapi hal tsb. apa bila disesuaikan dengan tjeriteranja saja tidak tahu.

--- >(dokumen rusak)<----

 

Pertundjukan Ludruk adalah seni Drama daerah jang menggunakan basa Djawa dialek Djawa Timur jang diiringi dengan gamelan, ada persamaannja dgn pertundjukan Ketoprak jang terdapat di Djawa Tengah, hanja sadja dalam Ludruk biasanja dilakukan tjeritera jang penuh sindiran jang realistis dengan lelutjon2 jang enak kita rasakan dan tidak terputus dengan tjeritera jang disuguhkan. Lelutjon2 dengan basa Djawa Timur djuga enak kita dengar, dengan begitu Indonesia akan kaja pertundjukan dagelan jang lain2 tjoraknja, misalnja Djawa Tengah mempunjai gaja sendiri jg menggunakan basa Djawa dialek Djawa Tengah, dan sekarang disusul dengan dagelan (pelawak2) jang menggunakan bhs. Indonesia. Tentu sadja daerah2 lain mungkin seperti Bali, Kalimantan, Sumatera tentunja djuga mempunjainja.

Maka dalam pertundjukan Ludruk jang saja lihat malam pertama di Sasana Hinggil Jogja ada sebagian pemain jang kata2nja sudah tidak atau sedikit sekali menggunakan dialek Djawa Timur, sajang. Bowo sebagai pelajan dalam tjeritera Bandot tua kelantjaran bahasanja jang sepesifik Djawa Timur bisa diikuti oleh pemain jang lain, djuga para pemain dagelan sebagai atjara pembukaan bagus sekali tjara mereka melepaskan kata2 jg sepontan jang asli bahasa dan tindak tanduknja,

 

Peranan Inspektur Pulisi dialuhnja seperti dalang sehingga kata2nja jang diutjapkan kurang terang, hanja kelantjaran dan dramatiknja sudah bisa mengimbangi isterinja. Peranan pak Tjitro baik sekali termasuk isterinja jang satu sama lain bisa saling mengisi kekosongan, peranan wanita jang galak dgn suaminja baik, tapi sering2 berlebih2an.

 

Bambang sebagai anak inspektur dan wanita sebagai tunangannja belum bisa mengawasai panggung, gerak2nja jang kurang wadjar itu perlu banjak berlatih.

 

Selingan njanjian tunggal oleh pemain laki2 jang berdandan wanita saja usulkan selain menjanji sendirian apa tidak mungkin sekali keluar dua penjanji jang saling berpantun dan saling sindir menjindir, dan untuk menambah fariasi dalam atjara itu apa tidak baik kalau ditambah dengan satu penjanji laki2 dgn dua wanita jang maksudnja sama, saling sindir-menjindir dan ditambah sedikit dengan gerak2 jang sesuai dengan isi sindirannja.

 

Tentang dekorasi diluar dan dalam jang menggunakan warna2 sederhana tapi tjukup artistik itu bisa diteruskan, hanja dekor jang dipergunakan untuk njanjian jang bergambar pohon kelapa dan bulan itu saja rasa perlu diganti dengan dekor jang bergambar ornamen2 jang sepisifik Djawa Timur, misalnja sadja bisa mengambil motif ornamen2 jang biasa dipergunakan untuk memperindah perau2 Djawa Timur jang warnanja tjukup meriah dan pantas. Akan baik lagi kalau dekor jang dipergunakan itu disesuaikan dengan warna2 pakaian para penjanjinja. Dan saja pertjaja kepada kawan2 dari rombongan Ludruk Marhaen dalam mengolah seninja akan lebih bersungguh2 dan saja pertjaja penggalian dan pengolahan itu akan berguna bagi dunia seni.