Seni Eksperimen, Apa yang kau Cari?

"KEDAULATAN RAKYAT”

MINGGU PAHING 23 AGUSTUS 1987 (28 BESAR 1919)

Oleh Indra Tranggono

 

SUDAH tiga kali Padepokan Seni Bagong Kussudiardja menyelenggarakan pergelaran seni eksperimen. Bangsal ‘Layang-layang’ desa Kembaran Kasihan Bantul--Kompleks padepokan itu, menjadi semacam laboratorium uji coba kesenian. Ada Teater. Ada musik. Ada tari. Ada pantomim dan sebagainya. Berbagai bentuk kesenian itu dibedah dalam diskusi oleh beberapa pengamat dan para penonton. Para kreator penampil/penyaji diminta "pertanggungjawaban keseniannya”, sehingga forum eksperimentasi ini diharap terhindar dari kekenesan seniman yang berkarya "asal aneh”. Diskusi yang mempertemukan beberapa pandangan pemikiran itu mencoba menawar bentuk kesenian yang disajikan penampil/kreator, sehingga terjadi tawar menawar gagasan, tawar menawar nilai. Tawaran ini mencegat seniman agar ”medar konsep”.

HAKEKAT eksperimen adalah uji coba untuk menjelajahi medan kemungkinan yang baru. Dalam proses apapun, terjadi kelapukan, terjadi kemapanan dan sebagainya. Sementara itu tantangan terus menghadang manusia. Ini membikin manusia gelisah. Termasuk seniman!

Eksperimentasi merupakan upaya manusia untuk menjebol segala bentuk kemapanan. Dalam psikologi, eksperimentasi mencoba membongkar segala perilaku manusia, sehingga dapat diperoleh berbagai kecenderungan manusia untuk dipelajari dan dipahami. Sementara itu, dalam ilmu fisika, eksperimentasi merupakan upaya pembongkaran terhadap hukum-hukum alam. Dari pembongkaran ini didapat hukum-hukum baru yang menjadi landasan manusia untuk menciptakan berbagai sarana yang menunjang peradabannya.

Bagaimana pula dengan eksperimentasi dalam kesenian? Seniman pun dalam eksperimentasinya berupaya membongkar hukum-hukum kesenian (konvensi) yang dipandang sudah lapuk dan perlu dibuang. Sebab, seniman merasa kemapanan konvensi itu menjadi penjara yang mengurung kebebasan kreatifnya. Penjebolan terhadap segala kemapanan konvensi itu tetap dalam rangka kreativitas, sehingga sesuatu yang terlahir pun merupakan kreativitas baru. Kreativitas baru ini akhirnya memperkaya dimensi kesenian. Dan dalam prosesnya segala inovasi itu pun menjadi konvensi yang mapan, kemudian sang seniman kembali memberontakinya. Begitulah seterusnya, sehingga jagad kesenian senantiasa dinamik, lahir segala yang baru.

Reaksi

Pada awalnya, tawaran inovasi seniman yang bereksperimen ini akan mendapatkan reaksi yang keras dan masyarakat, khususnya mereka yang selama ini teguh mengemban konvensi lama. Seniman semacam ini dianggap merusak kesenian yang sudah ada, yang sudah mapan. Dalam konteks ini, Dr Umar Kayam memberikan contoh yang bagus. Yakni, tantangan yang dihadapi penari dan penata tari asal Surakarta, Sardono W Kusumo yang mencoba memberikan tafsiran lain terhadap tari Cak Bali. Sekitar tahun 1971, Sardono di desa Teges, Bali mencoba menafsirkan kembali tarian Cak yang tradisional dengan suatu eksperimen baru. Eksperimen baru itu, bagaimanapun artistik dan menarik, telah mendapatkan tantangan hebat dari sebagian masyarakat Bali. Sepuluh tahun kemudian, interpretasi Cak gaya Sardono itu tidak hanya ditarikan oleh masyarakat Teges akan tetapi juga diterima oleh sebagian besar masyarakat Bali. Setidaknya ia tidak lagi mendapat tantangan yang konfrontatif (Umar Kayam: 1981).

Dramawan tangguh Putu Wijaya, juga mendapatkan tantangan keras dari kritikus teater Rustandi Kartakusumah, ketika mementaskan "Aduh” yang menyebal dari konvensi drama pada umumnya. "Aduh” tanpa plot yang jelas, tidak tematik, sulit dipahami. Sehingga Rustandi menilai drama Putu "sok absurd”, ilogis, kacau tidak menguasai teknik drama dan lainnya (Goenawan Mohamad: 1980).

Rustandi gagal menangkap bahwa Putu ingin mengembalikan teater pada dirinya sendiri. Teater bagi Putu tidak semata-mata budak kata-kata. Putu berteater berangkat dari apa yang ada, sehingga segala lintasan pemikiran, perilaku, gagasan dan sebagainya tumpah ruah.

Apa yang dikembangkan Putu, akhirnya menjadi sumbangan yang berarti bagi perjalanan dunia teater Indonesia yang terus mencari dirinya. Putu menekankan aspek ritme, dinamika, dan teror terhadap nurani penonton.

TAK berbeda dengan Putu, Rendra pun melakukan pembaruan dalam teater modern, yakni upaya mengangkat kembali (juga menggali) khasanah budaya pribumi (terutama Jawa dan Bali). Kecerdasan Rendra menafsirkan kembali budaya nenek moyang (atavisme budaya) menjadikan drama-dramanya berpijak di bumi budaya Indonesia, meskipun drama itu berasal dari budaya luar. Pementasan Oidipus merupakan contoh kongkret kemampuan Rendra itu.

Pada dekade terakhir, di Yogya muncul Teater Gandrik pimpinan Jujuk Prabowo yang juga mencoba memodivikasi teater rakyat semacam dagelan Mataram, wayang orang, wayang kulit, srandul, ketoprak dan lainnya (lihat, lakon Pensiunan, Sinden, Meh dll). Untuk sekadar mengingat, kemungkinan yang dijelajahi Gandrik ini oleh penyair Kirdjomulyo disebut teater sampakan. Trend "baru" ini akhirnya mewabah di seluruh wilayah Jawa Tengah dan DIY. Teater Shima pun mencoba menoleh ke belakang, kepada ketoprak, yakni dengan upaya pengembangan trick dan spectacle (lihat, lakon Godres garapan sutradara Puntung CM Pudjadi).

PENGALAMAN menunjukkan bahwa, pembaruan dalam kesenian melalui eksperimen, yang terpenting adalah kesadaran berproses yang wajar. Eksperimentasi berangkat dari wawasan kesenian ditambah berbagai cecapan pengalaman yang kuat. Eric Newton, seorang ahli estetika pernah mengatakan, "Semakin kaya pengalaman seseorang, dan semakin besar kemampuannya untuk berkontemplasi, maka semakin utuhlah perlengkapan untuk mencerapi keindahan, berarti semakin baiklah selera atau daya cecap seninya.” (Dami N Toda: 1984).

Kalau pemikiran diatas bisa kita terima, maka kita akan menolak asumsi bahwa eksperimen seni sekadar uji coba belaka tanpa dimodali proses yang panjang. Itu lah sebabnya, kenapa banyak perupa/pelukis Yogya beberapa waktu yang lalu menggugat eksperimen Dipo Winoto yang mandi cat dan bergulung-gulung di atas kanvas ratusan meter. Karena tidak diberangkati proses berkesenian, Dipo terjebak pada upaya mencari sensasi belaka, asal aneh dan asal mengejutkan. Sejauh ini, banyak orang tidak mengenal Dipo sebagai pelukis yang, berkarya. Dimana melalui karya itu bisa dilacak proses kreatifnya.

LALU, apa yang dicari oleh para seniman yang menggelar karya eksperimennya di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja? Apakah mereka cukup bermodal kuat (wawasan seni dan pengalaman kreatif) dalam mendobrak kemapanan konvensi kesenian? Ataukah ia hanya sekadar gerak artifisial (ngoyoworo) dari kekenesan seniman yang ingin mencari sensasi diri? Batasan inovasi dan sensasi memang sangat tipis. Untuk itu, kita perlu mengukur karya eksperimental itu dari kemampuan dan bobot terobosannya terhadap konvensi kesenian yang ada. Adakah cadangan kreativitas yang memadai?

Jika, upaya bereksperimen ini benar-benar matang, maka kita perlu bergembira atas prakarsa Padepokan Seni Bagong K dalam mendinamisasi dunia kesenian di Yogya. Justru dari Bantul, pijaran kreativitas ini muncul. Sekaligus, upaya ini merupakan tabungan kebudayaan (invenstasi kultural) untuk gerak dinamik Yogya sebagai pusat kesenian. Kita pun berharap pendaran cahaya kreativitas itu makin menemukan keluasan pengaruhnya.

Yang juga penting adalah tumbuhnya kritik terhadap upaya ini. Sejauh ini, kritik hanya terlontar diseputar bangsal pergelaran. Para kritisi seni Yogya belum memanfaatkan media massa semaksimal mungkin. Dengan adanya tradisi kritik, maka para seniman semakin ditantang untuk berkreasi. Sekaligus bisa digapai berbagai kemungkinan baru yang menjadi sumbangan bermakna bagi dunia kesenian di Yogya khususnya dan Indonesia umumnya.

Forum pergelaran seni eksperimen ini, disisi lain menjadi wahana bagi seniman untuk mewujudkan kegelisahan kreatifnya, sekaligus mengangkat mereka ke permukaan panggung kesenian Yogya. Dengan media ini, masyarakat menjadi tahu, banyak seniman muda yang berani tampil. Forum ini pun berguna bagi kepentingan berkomunikasi dan berdialog antar seniman dari berbagai cabang seni. Dari muara berbagai arus pemikiran dan karya ini, insya Allah, masing masing seniman dan masyarakat bisa memperkaya pengalaman bathin dan memperluas wawasan nya. Sehingga, tidak saja ada peningkatan apresiasi seni, tapi juga tersedia ruang pergulatan kesenian yang tidak pernah selesai.

(*) Penulis adalah pengamat kesenian. -h