Seni Eksperimental Harus Konseptual Tak Sekadar Improvisasi yang Dangkal

MINGGU PAGI No 08 Tahun ke 44 Minggu Keempat Mei 1990

 

BONGKAR -- Experiment art, seni 'percobaan' menandai adanya kegelisahan seniman untuk terus menjelajahi wilayah kemungkinan estetik. Diharapkan dari penjelahan itu dapat diciptakan berbagai alternatif bentuk dan nilai yang berfungsi untuk menawar kembali konvensi-konvensi seni yang mapan. Eksperimentasi pada hakekatnya berupaya membongkar tatanan nilai, konvensi yang ada, untuk menciptakan tatanan nilai, konvensi 'baru'. Untuk menciptakan alternatif itu, bukan tanpa syarat. Salah satu syarat itu ialah adanya konsep yang matang, dan tangguh sehingga ia, seni eksperimental itu, mampu menyodorkan alternatif nilai, baik bentuk maupun isi, dalam jagat kesenian yang ada. Ini menunjukkan, seni eksperimental selalu punya sejarah. Ia tidak dapat melepaskan diri dari serat-serat nilai kesenian sebelumnya. Hal inilah yang membedakan antara seni eksperimental konseptual dengan seni eksperimental asal-asalan. Yang pertama berangkat dari kegelisahan untuk menciptakan pembaruan. Sedang yang kedua berangkat dari kegenitan untuk menciptakan sensasi seni yang dangkal. Dalam prakteknya, kita kadang sulit membedakan keduanya, sebab begitu longgarnya 'batasan seni eksperimental itu.

BAGONG -- Bagongg Kussudiardja, seniman, pencipta tari yang terkenal gemar “memberontaki" konvensi seni tari yang mapan itu, dengan padepokannya telah memberi ruang bagi para seniman untuk bereksperimen. Sehingga, dari padepokannya muncul berbagai alternatif nilai seni yang diharapkan mampu memperkaya jagat kesenian. Ini seperti yang terjadi pada Pergelaran Seni Eksperimen V,  12 Mei lalu.

Tiga penata tari, Sutopo Tedjo Bas koro, Hendro Martono dan Y. Subowo menggelar tari eksperimentalnya; Tangan-tangan, Orang Asing Melihat Tari Jawa dan Sesaat.

Sutopo, dalam Tangan-tangan-nya mencoba menyusun bentuk gerak yang bermacam-macam lewat satu bagian tubuh manusia: tangan. Untuk mendukung penciptaannya itu, digunakan sinar lampu ultra violet.

Bakdi Sumanto, kritikus sastra yang jadi pengamat, menilai Tangan-tangan merupakan karya yang utuh. Keutuhan itu lahir dari kemampuan teknis Sutopo dalam menciptakan komposisi gerak, irama dengan hanya mengeksplorasi satu alat, tangan menjadi berbagai kemungkinan bentuk dan nuansa. Mantan Ketua Umum Dewan Kesenian Yogya ini juga menilai, Tangan mampu menciptakan suasana mistis. Iringan musik digarap Djaduk Ferianto.

Keutuhan itu, di mata Bakdi, tidak terlihat pada sajian lain, Orang Asing Melihat Tari Jawa karya Hendro Martono, dosen jurusan tari ISI Yogya. Karya yang mengeksplorasi gerak tari, tata lampu, siluet, musik Barat dan senirupa. Paduan berbagai unsur itu, kata Bakdi, tidak menimbulkan keanehan alias dapat bertemu. "Tari Jawa yang diiringi musik Barat tidak terasa dipaksakan," ujar Bakdi yang melihat kelemahan mencolok dari tari ini pada kontinyuitas yang tidak terjaga, bahkan boleh dikatakan gagal. Karena begitu cepatnya perubahan suasana, dan pergantian adegan. Tari ini juga kehilangan makna karena adegan-adegannya terlalu lama.

Lewat Orang Asing, Hendro mencoba melihat fenomena bahaya pertunjukan tari di Yogya yang sebagaian besar dikemas untuk paket pariwisata. Ini membikin Hendro gelisah. Ia mengkha watirkan pertunjukan tari akan kehilangan dinamika kreativitas, karena tari cenderung diabdikan pada perdagangan pariwisata.

“Tari ini akan lebih menarik jika sang koreografer tidak menyodorkan konsep yang sangat rinci; konsep yang akhirnya justru menjadi pagar bagi penafsiran penonton," kritik Bakdi.

Sementara itu Bagong Kussudiardja memuji keberanian Hendro dalam memadukan berbagai unsur seperti tari, senirupa dan sarana teknologi lain seperti tatalampu yang apik serta musik Barat untuk mengiringi tari Jawa. "Ini merupakan langkah universalisasi tari vang perlu dicatat," ujar Bagong.

Sesaat, sajian Y. Subowo, dipuji Bakdi dalam hal memilih media tari, yakni tubuh dan suara (cocal). Materi itu memungkinkan lahirnya berbagai alternatif, jika dieksplorasi secara maksimal.

“Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Sesaat tak menemukan daerah jelajah estetik yang baru," kilah Bakdi. Tari yang berdasar improvisasi ini, bahkan oleh Bagong K, dinilai sebagai karya yang belum selesai. "Improvisasi merupakan bentuk untuk mendasari penciptaan, bukan bentuk pergelaran, kilah Bagong. Tapi, Subowo justru berpendapat sebaliknya, "improvisasi merupakan pergelaran jadi!”

Alhasil, tari yang lahir dari pengamatan Subowo atas ketoprak di Surakarta yang mendasarkan diri pada improvisasi ini oleh para pengamat dipertanyakan dalam posisinya sebagai pergelaran jadi. Tapi Bagong segera menukas, "semua karya itu sah dianggap karya, tergantung dari mana kita melihat nya.”

Sementara itu, Ni Nyoman Sudewi. pengamat lain, melihat tiga tarian itu masih memiliki berbagai cacat teknis. Sedangkan budayawan Jawa. H. Karkono Kamajaya, justru melontarkan kekecewaannya, karena pergelaran tan eksperimental ini tanpa gamelan. “Kenapa harus menggunakan musik Barat? Bukankah gamelan pun sangat potensial untuk mengiringi karya eksperimental ini?” gagat Karkono yang menilai semua upaya yang sudah ditempuh para penata tari ini cukup konstruktif.

Pergelaran Seni Eksperimen atas prakarya Padepokan Bagong K sudah berlangsung lima kali. Forum ini masih didominasi oleh para penari. Tentu saja, hal ini menantang para seniman lain seperti sastrawan, teaterawan, musisi untuk menyodorkan kegelisahannya lewat karya.

INDRA TRANGGONO. -c