Seniman Tari-Pelukis Bagong K Sarjana Tari Tetap Dibutuhkan Asal Tidak Kehilangan Idealiseme

JUMAT PON 11 FEBRUARI 1983 927 BAKDAMULUD 1915)

“Kedaulatan Rakyat”

 

BANYAKNYA sarjana kesenian menunjang sistim pendidikan dalam rangka kebudayaan. Artinya, kesenian khususnya seni tari, mempunyai prospek baik di masa depan. Sekalipun mereka duduk di balik meja, bukan berarti mandeg. Tapi justru berkembang, mengolah kesenian dalam dunia pendidikan formal. Demikian dikatakan koreographer dan pelukis, Bagong Kussudiardja, kemarin di ASTI Karangmalang.

"Karenanya sarjana kesenian tetap dibutuhkan," tandas nya. Yang disayangkan kata Bagong, justru berada dalam sistim akademi ada seniman yang sarjana surut idealismenya. Mereka jarang berkarya dan langka melahirkan puncak-puncak kreativitasnya.

Bagong yang siang itu membawakan makalah Pengembangan Tehnik Gerak Seni Tari dan Kemungkinannya”, lebih jauh mengatakan, seni tari sebagai kesenian yang lengkap tidak mungkin menolak keterlibatan kesenian lainnya. Di dalamnya ada unsur seni suara, seni rupa, sastra, teater, pedalangan dan seni bangunan. Semua elemen kesenian itu turut berproses dalam penciptaan tari.

Seni suara misalnya, terdapat pada musik dan tembang. Seni rupa pada kostum, tata rias, lihgting, properti dan dekorasi. Sastra dalam pemberian nama simbol gerak dan bentuk tari dan pocapan (dialog) yang berupa puisi, pantun dan syair.

 

Serapan

Sedangkan perwatakan cerita, akting, mimik dan dialog merupakan serapan unsur teater. Begitu pula ide cerita, biasanya didapat dari dunia pewayangan. Banyak tema tari atau sendratari bersumber lakon wayang.

Seni bangunan tambah Bagong, yang kelihatannya tidak ada hubungannya, ternyata sangat berperan. Demi pengaturan komposisi, akustik, penataan cahaya, dan memberi kepuasan penonton, keterlibatan arsitek dibutuhkan.

Namun seniman terkenal ini *

(Bersambung hal 11 kol 8)

 

Sarjana...

menyayangkan gedung yang ideal jumlahnya masih sedikit di Indonesia. "Ini tantangan kita”, ujarnya. Bagaimana dengan kondisi yang serba terbatas, penata tari bisa berkarya dan memberi kepuasan penikmatnya.

Bicara tentang pengembangan tehnik gerak, Bagong mengatakan, ada dua kacamata berbeda, tradisional dan non tradisional. Keduanya menunjukkan kemajuan seiring zamannya. Dan ini menjadi tugas penata tari untuk senantiasa mencari, menemukan, mencoba dan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam seni tari.

(Sambungan hal 1)

palah artinya seorang penata tari, jika ia pasif dan tak pernah tergoda mencari kemungkinan pengembangannya”, ujar Bagong.

 

Tetap sah

Menjawab pertanyaan, Bagong yang acapkali dibilang 'melacurkan' diri karena mau menggarap pesanan tari pihak lain, mengatakan apapun istilahnya, sikap melacurkan diri tetap sah dan bermanfaat bagi dunia tari. Setidaknya, demikian Bagong seniman tari sudah menanam benih kecintaan pada kaum apresian. Ia mengakui, tarinya banyak unsur hiburan. ”Namun adakah tarian yang tidak menghibur?” tanyanya. ”Tari Serimpi yang adiluhung itu pun tari hiburan," jelasnya.

 

Menurut Bagong, kemajuan teknologi dan semakin terbukanya pergaulan antar bangsa dan suku, menumbuhkan pergesekan budaya. Sentuhan budaya itu membuka kemungkinan pengembangan gerak.

 

Karenanya kata Bagong kita jangan berburuk sangka terhadap pembaharuan. Biarkan dia muncul. Jangan persoalkan mutu dan bobot nya. Nanti zaman yang mengujinya.

Mengakhiri ceramahnya, Bagong mengajak mahasiswa dan dosen ASTI bekerjasama mengolah kesenian, khusus nya seni tari. Kerjasama itu berupa bantuan moril maupun materiil. Ia bersedia menjadi sponsor untuk sebuah produk si tari.

Hadir pada acara itu mahasiswa dan dosen ASTI serta Suhascaryo, direktur ASTI. Bertindak selaku moderator Y Sumandiyohadi SST, dosen ASTI. Acara ini merupakan perwujudan Pro yek PELITA. -   (Butet)