Tanggapan Tulisan Bagong Kussudiardja Betul, Mereka Sudah Dibisutulikan Birokrasi

“SINAR HARAPAN" KAMIS, 3 MARET 1983

 

MEMBACA tulisan Bagong Kussudiardja ("Sinar Harapan". Kamis 24 Pebruari 1983) yang berjudul "Sarjana Tari Surut Idealismenya", ini benar adanya! Kalau boleh ditambahkan ketegasan bahwa sarjana tari lebih tepat "punah idealismenya". Namun sayang tulisan Bagong tidak menukik pada judul yang tertera. Tulisan Bagong lebih menukik pada hakekat seni tari itu sendiri. Oleh karena itu ada baiknya kita lanjutkan hal-hal yang saya ketahui sendiri, di sekolah yang selama ini saya tekuni (Aka demi Seni Tari Indonesia - ASTI di Bandung).

 

Tidak satu pun saya temui dari sejumlah sarjana tari yang telah ditelorkan ASTI Bandung, mampu mengabdi pada dunia yang telah bertahun-tahun ditekuninya. Maka apa yang telah diuraikan Bagong terhadap hakekat seni tari sebagai suatu idealisme, itu semata utopis belaka bagi sarjana-sarjana tari. Mereka sudah dibisu-tulikan oleh keadaan yang birokratif. Maka banyak calon-calon sarjana yang ingin cepat-cepat selesai, untuk mendapatkan statusnya sebagai pegawai negeri! Lha ini sangat lucu, malah status pegawai negeri yang dikejar bertahun-tahun, bukan prestasi kesenian yang ingin dicapainya. Petaka ini bukan saja 'pada jurusan tari, tapi juga pada jurusan karawitan dan teater.

 

Sepertinya mereka lebih kerasan duduk di belakang meja dari pada sibuk dalam kesenian. Jika ada proyek pemerintah dengan biaya besar untuk program kebudayaan, barulah mereka semangat membuat karya-karya pesanan, tentunya mutu tidak dapat dipertanggungjawabkan, menjadi seni yang sloganistis. Tidak intens dan total! Setelah selesai mereka kembali duduk di belakang meja.

 

Mengapa sampai merosot seperti ini kesenian kita? Sampai sejauh mana pertanggungjawaban mereka sebagai sarjana-sarjana tari, yang begitu diharapkan kreativitasnya bagi perkembangan kebudayaannya? Masyarakat hanya mendengus tiada akhir!

 

Kungkungan Akademis

Akibat kungkungan akademis pun dalam tulisan Bagong tidak diperincinya. Mungkin maksud Bagong, kungkungan inilah yang menghambat mereka untuk berbuat lebih jauh dari peristiwa peristiwa kesenian. Hal ini pun dapat saya rasakan, karena perguruan tinggi kesenian lebih menekankan sistem-sistem yang bersifat akademis. Tidak bedanya seperti studi di perguruan tinggi non kesenian (eksakta dan non eksak ta). Karena tujuan perguruan tinggi ialah kesarjanaan.

 

Nah persoalan ini sangat pelik sekali. Karena kesenian lebih menjurus pada cita-rasa. Maka lebih tepat padepokan Bagong dari pada perguruan tinggi kesenian, tidak sedikit hal yang telah ditelorkan WS Rendra dengan Bengkel Teater-nya. Lha kok malah hal-hal yang non akademis yang mampu menunjukkan eksistensinya di mata masyarakat. Ini tentunya hal yang sangat ironis yang harus dipikirkan di kalangan sarjana sarjana kesenian.

 

Hal yang mengukung mahasiswa-mahasiswa kesenian ini disebabkan sistem pengajaran dan pengarahan terhadap kehidupan kesenian masih sangat kurang. Mereka lebih banyak dijejalkan pada pelajaran yang non kesenian, sebagai pelajaran-pelajaran wajib akademis.

 

Sedang untuk pelajaran-pelajaran kesenian lebih ditekankan pada teori-teori katimbang praktek. Teori-teori keseniannya pun diimpor dari luar negeri. Karena di dalam perguruan tinggi yang berbau asing lebih nampak ilmiah.

 

Mereka lebih kenal seniman seniman dari Barat katimbang seniman-seniman dari negerinya sendiri. Maka dari pelajaran praktek mereka berulang-ulang hanya pada tradisi-tradisi yang sudah mapan yang dipelajari. Tidak ada hal-hal pembaharuan yang seperti diungkapkan Bagong dalam tulisannya yang diketengahkan dalam praktek. Mereka setiap hari harus hadir pada setiap mata pelajaran dengan membawa kartu absensi yang setiap saat ditandatangani dosen-dosennya, sebagai bukti kehadirannya mengikuti pelajaran, jika absensi tersebut kurang dari 75 persen maka si mahasiswa tidak dapat mengumpulkan kredit (nilai) dalam studinya.

 

Maka banyak mahasiswa yang telah membatin kesenian bagi dirinya, dimana ia lebih bersikap seniman dari pada mahasiswa, tidak kerasan melihat hal yang mengukung dirinya, pergilah dia meninggalkan perguruan tingginya (drop out). Maka jika pada mulai pendaftaran mahasiswa membludak, setelah beberapa lama makin menciut.

 

Sistem

Jika kita melihat persoalan di atas tadi, inilah yang dimaksud Bagong "terkungkung“. Mereka dikungkung oleh sistem-sistem yang tidak berkenan dengan cita-rasa kesenimanan, mereka dikungkung oleh program-program akademis, mereka dikungkung oleh metode-metode kemutlakan, mereka dikungkung oleh peraturan-peraturan birokrasi, dsb.

 

Maka timbul sarjana-sarjana tanpa bobot kesenian, yang berambisi untuk menjadi Pegawai Negeri, tanpa kerja berat, hanya duduk-duduk di kantor, ngobrol-ngobrol obyekan, terima gaji setiap bulan, bisa mengurus istri dan anak, dan akhirnya bisa terima pensiunan, selesai jadi manusia. Jangan harap dari mereka untuk menjadi pemikiran kesenian atau menjadi kolumnis kesenian di surat kabar.

 

Inilah yang menimbulkan rangsangan dalam diri saya ketika membaca tulisan Bagong tersebut, namun Bagong lebih menitik beratkan pada hakekat kesenian itu sendiri, tidak mencuat pada judul yang tertera.

 

Demikianlah lanjutan dari tulisan Bagong Kussudiardja, sebagai penekanan hal yang tertera pada judul tulisannya. Kesimpulan yang dapat kita tarik dari dilema ini, bahwa sarjana-sarjana tari telah membelot di luar kehendak diri nya, untuk menjadi pegawai-pegawai negeri yang lebih terhormat dari seniman tari. Mereka tidak lagi mengabdi pada seni tari yang membutuhkan pengorbanan, maka idealisme yang diterapkan Bagong semata utopis belaka. ***

 

- Diro Aritonang